Legenda Komodo di pulau Komodo

Legenda Komodo di pulau Komodo

Konon, orang-orang pulau Komodo di Timur Indonesia percaya, kalau dulu Komodo adalah bagian dari nenek moyang mereka . Mereka percaya kalo asal-usul komodo tuh dari manusia. Jadi, dulu banget, ada manusia yang melahirkan anak kembar. Tapi pasangan kembar itu berbeda spesies. Satu manusia, satu komodo. Sayangnya, orangtua mereka kemudian membedakan perlakuan terhadap dua anak kembar itu, alias lebih sayang dan perhatian sama anak yang wujudnya manusia. Akhirnya, karena sedih, sang komodo pergi dari rumah, masuk hutan, dan menetap di sana sampai beranak pinak.

pulau komodo
Warga pulau Komodo biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Dan kini, sebagai wujud penghargaan mereka kepada komodo, yang notabene masih sodaraan dengan nenek moyang mereka, warga pulau komodo membuat patung-patung komodo mini.

Cerita ini diberikan oleh wakil kepala kampung Komodo dan itu menjelaskan asal orang dan naga Komodo.




Di Pulau Komodo puluhan abad yang silam, ada sekelompok manusia primitif. Mereka tinggal di kampung Marawangkan dan ada kepala adat yang bernama Umpu Najo. Kalau ada wanita di desa itu yang mau melahirkan, Umpu Najo membelah perutnya jadi bayi itu bisa diambil. Ibu tersebut mati tetapi anaknya hidup.

Umpu Najo mempunyai seorang putra yang akan menikah dengan putri yang bernama Epa. Sembilan bulan setelah acara perkawinan sudah dilangsungkan, Epa siap untuk dibelah. Acara pembelahkan perut itu dilangsungkan dengan sejuta duka dan luka di hati putra kepala adat. Dia pertahankan nasib malang karena itu tradisi kampung Marawangkan dan dia menyaksikan pembelahan perut istrinya. Epa meninggal dan ada dua putra.

Putra kembar ini adalah Ora (naga) dengan manusia. Nanti, ayah baru itu melupakan tragedi rumah tangganya dan menikah lagi dengan gadis dari kampungnya. Setahun berlalu dan istri putra Umpu Najo menjadi hamil, dan ayah itu tidak memberi kasih pada anaknya. Mereka merasa frustrasi atas sikap orang tuanya dan akhirnya, Ora memilih tinggal di hutan sementara kembarnya masih tinggal di kampung Marawangkan. Setiap kali Ora masuk kampung, dia mencuri ayam.

Perut Ibu tiri Ora akan dibelah sesudah beberapa hari. Sehari sebelum upacara itu dimulai, ayah Ora berlari jauh dari kampungnya karena dia tidak bisa menyaksikan tragedi kedua yang menyakitkan hatinya. Pada saat itu, Umpo Najo kedatangan tamu asing. Tamu asing ini adalah pengembara dari Sumba yang kehabisan bekal di perjalanan. Mereka pergi ke rumah Umpu Najo dan dia bertanya kepada tamunya, “Anda berasal dari mana?”

Seorang Sumba menjawab, “Aku dan kawan-kawanku berasal dari Sumba, negeri di seberang lautan di selatan pulau ini, dan kami kehabisan bekal. Kami melihat asap di puncak ini dan memikirkan pasti ada perkampungan, kapal kami berlabuh di pantai.” Ia bertanya, “Mengapa ada banyak orang yang menangis di rumah Umpu?”

Umpu menjawab, “Karena perut menantu saya akan dibelah.”

“Mengapa?” tanya orang Sumba.

“Karena itu kebiasaan kami disini. Kalau ada wanita yang hendak melahirkan, perutnya akan dibelah. Ibu mati, anaknya hidup.”

Orang Sumba bertanya lagi, “Apakah tradisi ini bisa diubah?”

“Apa maksudmu?” tanya Umpo.

“Maksud saya, kami punya ibu yang akan menolong menantu Umpu. Saya yakin dia selamat dan Anda tidak perlu melakukan acara pembelahan perut lagi.”

“Jikalau kamu bisa mengubah tradisi kami, saya akan memberi sebagain pulau ini kepadamu,” kata Umpo pada tamunya.

“Baiklah,” jawab orang Sumba.

Sebagian penduduk kampung itu pergi ke pantai Loh Wau dan kembali dengan dukun wanita dari Sumba. Dukun itu menolong menantu kepala desa dan akhirnya, ada dua kembar lain, satu putri cantik dan yang satu naga Komodo yang bernama Sabae.

Kembar itu diletakan di atas dulang dan ibunya yang selamat, beristirahat diatas palfum. Sehari sesudah acara itu, ayahnya kembali dengan air mata dan melihat anaknya yang diletakkan diatas dulang. Tiba-tiba, tetes air dari atas taja mengenai dan dia bertanya pada Umpu Najo, “Apa air itu, Bapak? Ada nangka di atas taja?”

“Tidak, nak, di atas taja adalah istrimu, dengan penuh rasa bahagia.”

Mereka menangis karena dukun penolong itu merubah tradisi desa Marawngkan dan manusia disana bisa berkembang. Mereka pindah ke tempat lain di Pulau Komodo dan orang Sumba dan Marawangkan menjadi saudara.

Hingga saat ini, orang kampung Komodo percaya bahwa mereka kembar naga Komodo. Kedua tangannya mempunyai lima jari dan ada satu jantan Komodo untuk setiap 3.4 betina. Pada jaman kuno, kalau orang kampung membelah wanitanya, perbandingan ini mungkin sama.

Dengan darah yang sama, orang dan naga Komodo tinggal bersama-sama dengan tenang sejak jaman kuno. Ketika orang kampung boleh memburu, naga menontonnya dan makan daging yang diberi kepadanya. Ada orang kampung yang mengatakan bahwa pada suatu hari, dia membuang kotoran diatas gunung. Dia melihat ke langit dan tiba-tiba, ada naga didepannya. Naga itu bisa menggigitnya tetapi dia pergi begitu saja.

Mereka tidak pernah membunuh naga Komodo dan menyatakan naga itu belum pernah membunuh mereka walaupun ada anak sekolah yang digigit. Mereka mengejutkan naga itu dan dibebaskan dengan segera.

Orang kampung juga bilang bahwa laporan tentang wisatawan yang dimakan oleh naga di Pulau Komodo tidak meyakinkan. Menurutnya, wisatawan itu mungkin hilang dan meninggal karena pembukaan. Ada versi lain:

‘Pada tahun 1973, wisatawan Swiss yang tua dan pemandunya berjalan di Pulau Komodo. Orang Swiss itu terjatuh dan melukai kakinya di batu. Pemandunya turun gunung dengan cepat untuk mengambil pertolongan tetapi ketika dia dan regu penolongnya kembali, mereka hanya bisa menemukan tas dan genangan darah.’

Ataukah wisatawan itu dimakan oleh naga Komodo atau tidak, selama banyak tahun, ada hubungan karib antara naga dan orang kampung tetapi sekarang, hubungan itu terancam.

Semula, tempat yang paling dikunjungi di Pulau Komodo adalah pusat pemberian makanan, sekarang ditutup. Wisatawan bisa masuk daerah yang dikanding untuk perlindungan dari naga Komodo. Mereka membeli rusa mati dari orang setempat dan itu ditaruh di lubang. Kemudian, naga Komodo memakan sementara pariwisatawan memotret pemandangan itu.

Ketika Pulau Komodo menjadi bagian Warisan Alam Dunia, naga Komodo harus dilindungi dari campur tangan manusia. Pusat pemberian makanan itu ditutup dan naga Komodo lapar mulai masuk kampung dan memakan kambing dan ayam. Sementara saya mewawancarai wakil kepala desa, ada teriakan dari keluar rumahnya karena naga Komodo masuk kampung itu dan membunuh kambing.

Walaupun situasi sekarang memelihara kelakuan alam naga Komodo, keselamatan masyarakat di kampung, binatangnya, dan hubungun antara masyarakat dan naga Komodo terancam.

0 comments:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Translate